Home Keuangan 9 Tips Memperbaiki Kebiasaan Buruk Belanja

9 Tips Memperbaiki Kebiasaan Buruk Belanja

84
Wisata Bandung Ekstrim Tebing Hawu Padalarang5

9 Tips Memperbaiki Kebiasaan Buruk Belanja – Siapa di sini yang doyan belanja tanpa mempertimbangkan kegunaan atau bahkan alasan untuk berbelanja itu sendiri?

Baca Juga: Revenue dan Income Bedanya Apa? Cari Tahu Di Sini Yuk!

Jujur saja, aku pribadi termasuk dalam kategori impulsive shopper yang memiliki kepuasaan untuk mengeluarkan uang terhadap benda atau barang yang mungkin enggak penting-penting amat saat itu.

Ini kebiasaan buruk, harus diubah, dan tidak untuk ditiru!

Namun, fenomena ini banyak ditemukan di generasi muda terlebih ketika mereka sudah mulai bekerja dan menghasilkan uang sendiri.

Seperti terdapat kepuasan untuk membeli suatu barang yang sudah diincar dengan hasil keringat sendiri.

Hal ini masih bisa diterima bila memang barang tersebut membantu meningkatkan produktivitas kegiatan harian atau barang yang memang belum pernah dimiliki sebelumnya.

Lalu, gimana dengan barang yang memiliki fungsi sejenis hanya berbeda merk?

Inilah yang mengkhawatirkan!

Baca Juga: Pentingnya Perencanaan Keuangan Keluarga

Apakah kamu hidup dengan mengandalkan gaji bulanan atau terus-menerus mengkhawatirkan soal uang?

Jika demikian, kamu pasti memiliki kebiasaan belanja yang buruk. Jangan khawatir karena kamu tidak sendirian.

Sebuah survei menemukan bahwa 70% responden menilai kebiasaan belanja yang buruk sebagai salah satu masalah keuangan yang paling merusak dan merugikan generasi muda.

Mereka yang mengaku memiliki kebiasaan belanja yang buruk bergumul dengan pembelian impulsif (sama seperti aku dulunya, dan terus masih berjuang mengalahkan kebiasaan itu).

Banyak orang mengambil barang dan memasukkannya ke keranjang belanja mereka, baik di toko atau online.

Alih-alih melakukan belanja komparatif, mereka membeli karena bosan atau karena stress dan menjadikan belanja sebagai pelampiasan!

9 Tips Memperbaiki Kebiasaan Buruk Belanja

Kebiasaan Buruk Belanja

Apakah hal ini terdengar familiar?

Ada solusinya jika kamu adalah salah satu dari 70% orang yang disurvei yang mengaku memiliki kebiasaan belanja yang buruk.

Kebiasaan buruk bisa dihancurkan, semua orang melakukannya setiap saat!

Baca Juga: Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS

Berikut ini merupakan sembilan rekomendasi untuk membantu kamu menghentikan kebiasaan buruk belanja yang tidak sehat bagi kantongmu.

Cara ini juga aku terapkan sehari-hari sebagai pengingat bahwa kebiasaan buruk belanja pada akhirnya dapat dimusnahkan.

Apa saja cara tersebut? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini yuk.

1Tanyakan Dirimu Apakah Berbelanja Memberikan Kegembiraan Sejati

Banyak orang merasa bahwa berbelanja memberi dorongan emosional yang mereka butuhkan. Ada alasan mengapa orang-orang menyebutnya dengan istilah terapi ritel.

Masalah dengan terapi ritel (alias berbelanja hanya demi berbelanja bukan karena dibutuhkan) dimana perasaan bahagia ini tidak bertahan lama setelah pembelian.

Kamu tidak akan pernah puas jika berbelanja hanya demi berbelanja karena kamu akan selalu membutuhkan hal lain lagi ke depannya. Hal ini mengkhawatirkan!

Baca Juga: Memahami Lebih Dalam Tentang Pinjaman Online

Pernahkah kamu merasa puas saat berbelanja dimana pada akhirnya hanya diliputi rasa bersalah saat melihat struk dan tas belanjaan kamu?

Pernahkah kamu membeli sesuatu hanya untuk mengetahui bahwa barang tersebut tidak membuat kamu bahagia seperti yang kamu harapkan?

Penyesalan pembelian jelas ada setelah itu.

Oleh karena itu, jangan keluar rumah atau ke mall bila kamu sedang stres atau sedih karena dorongan ini akan membuat kamu melakukan sesuatu yang irasional nantinya.

Jujurlah dengan dirimu sendiri tentang fakta bahwa belanja “murah” yang sering dilakukan ini tidak begitu menyenangkan karena menimbulkan masalah mental dan keuangan jangka panjang.

2Perhatikan Apa yang Telah Dibeli dan Terlupakan

Pernahkah kamu membeli suatu barang meskipun kamu sudah memiliki barang yang mirip misalnya baju atau tas baru?

Hal ini biasa terjadi ketika kita percaya bahwa kegembiraan berasal dari sesuatu yang berlebih.

Sebaliknya, memanfaatkan barang-barang kamu dengan baik hingga mencapai masa yang tidak layak pakai lagi merupakan hal yang sangat memuaskan.

Baca Juga: Virus Corona Menggerogoti: Bagaimana Dampak Terhadap Perekonomian Indonesia?

Coba periksa sekelilingmu.

Apakah ada terdapat tumpukan sepatu yang pada dasarnya memiliki model yang mirip? Apakah yang kamu miliki saat ini dapat digunakan daripada harus membeli yang baru?

Ingat saja cara ini ketika lain kali kamu ingin pergi berbelanja barang yang sama, dalam kasus ini sepatu.

Saat kamu ingin membeli sesuatu, coba tanyakan pada dirimu sendiri, “Apakah aku benar-benar membutuhkannya sekarang?”

3Pertimbangkan Alasan Mengapa Kamu Harus Berbelanja

Pernahkah kamu merenung atau bertanya-tanya mengapa kamu harus mengeluarkan uang?

Jika tidak, sekaranglah waktunya untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan sulit itu.

Kebanyakan orang umumnya sering menghabiskan uang untuk merasa lebih baik.

Takut ketinggalan fashion yang sedang trendi? Beli aja sekarang.

Lagi bosan atau stres di rumah? Ayo belanja aja ke mall atau online.

Begitu seterusnya.

Baca Juga: Siap untuk Pensiun Dini? Ikuti 7 Aturan Ini

Jika kamu menemukan faktor yang berkontribusi terhadap keinginanmu untuk berbelanja, kamu pasti bisa mengontrol dorongan tersebut dengan lebih baik di masa mendatang.

Kenali godaan saat kamu ingin melakukan pembelian dan alihkan perhatian hingga godaan itu berangsunr-angsur menghilang.

Menghabiskan lebih sedikit dari yang kamu hasilkan adalah satu-satunya cara untuk menghemat uang.

Hal ini berarti kamu harus mengurangi pengeluaran atau meningkatkan pendapatanmu.

4Sadarilah Bahwa Barang Akhirnya Bertumpuk dan Berantakan

Sebagai seorang katholik, perayaan Natal merupakan perayaan yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya.

Kecintaan terhadap Natal menjadikan dekorasi Natal begitu banyak dengan berbagai macam ragam dan warna.

Namun suatu hari, koleksi dekorasi Natal telah menumpuk dan melampaui semua lokasi penyimpanannya yang pada akhirnya sulit untuk mengeluarkan dan menyimpan semuanya kembali.

Jumlah dekorasi yang begitu banyak menjadikan momen yang tadinya menyenangkan menjadi sulit.

Hal serupa juga berlaku untuk barang lainnya.

Baca Juga: 5 Cara Agar Kamu Bisa Jalan-jalan Ke Luar Negeri di Akhir Tahun

Semua barang yang sudah kamu beli menjadi berantakan seiring waktu dan menumpuk gak karuan.

Sisi buruknya lagi, rumah yang berantakan membuat stres dan frustasi.

Coba periksa kembali sekelilingmu.

Jenis kekacauan apa yang kamu hadapi sehari-hari.

Apakah lemari pakaiaanmu penuh sesak? Jika demikian, apakah kamu benar-benar membutuhkan satu celana jeans lagi?

5Cek Laporan Bank

Memeriksa laporan bank merupakan teknik cepat dan mudah untuk memperbaiki pola pengeluaran yang tidak sehat.

Periksa laporan bank terbaru kamu dan jumlahkan semua transaksi yang tidak dibutuhkan.

Ketika kamu mulai melakukannya, kamu akan melihat bagaimana semua pengeluaran yang tidak perlu untuk “barang” mendatangkan malapetaka pada laporan keuanganmu.

6Buat Daftar Pembelian

Membuat daftar pembelian adalah metode terbaik untuk menghindari pembelian impulsif atau pengeluaran yang tidak perlu.

Sebelum melakukan pembelian, periksa dulu daftar pembelianmu lalu centang barang-barang yang sudah kamu miliki atau beli.

Baca Juga: Cara Sederhana Menetapkan Tujuan Keuangan

Coba tanyakan beberapa hal berikut ini sebelum mulai berbelanja:

  • Apakah kamu mampu membelinya?
  • Apakah ada tujuan atau fungsi barang tersebut?
  • Apakah barang tersebut dibeli untuk menggantikan barang yang ingin kamu sumbangkan atau singkirkan?
  • Apakah ada ruang untuk disimpan di rumah?
  • Apakah kamu akan menggunakannya lebih dari sekali?

Coba tunggu beberapa hari lagi jika kamu menjawab “YA” untuk pertanyaan sebelumnya.

Apakah kamu masih percaya bahwa kamu memang membutuhkan barang tersebut? Jika demikian, lanjutkan dan belilah.

Daftar periksa akan memastikan bahwa kamu membeli suatu barang yang memang benar-benar dibutuhkan.

7Persulit Cara Membelanjakan Uang

Harus diakui, teknologi telah membuat seluruh umat manusia terlalu mudah untuk mengembangkan kebiasaan belanja yang buruk dan mengakses segala hal dengan jari jemari.

Saat kita ingin membeli sesuatu – cukup buka ponsel, dompet, atau jam tangan kita dan barang itu langsung dibeli di saat itu juga!

Baca Juga: Waktumu adalah Uangmu

Bagi pemilik kartu kredit, informasi detail kepemilikan kartu sudah disimpan dalam beraneka macam online shop yang membuat proses pembayaran hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Bagi mereka yang impulsif, kebiasaan ini sangat berbahaya!

Cobalan mulai mempersulit diri sendiri untuk membelanjakan uang.

Beranikan diri untuk menghapus detail kartu kredit dari akun online shop manapun dan hanya gunakan uang tunai jika ingin berbelanja.

8Lakukan Belanja Komparatif

Di zaman sekarang ini, kemajuan teknologi membuat orang semakin malas dan ingin semua hal diperoleh secara instan.

Orang-orang ogah menghabiskan waktu untuk membandingkan harga karena mereka dapat langsung mengklik dan membeli barang yang mereka mau di saat itu juga.

Kamu bisa mengeluarkan uang terlalu banyak hanya karena kamu tidak bersedia meluangkan waktu untuk membandingkan harga.

Baca Juga: Mengapa Murid Pintar Bekerja untuk Murid Biasa Saja?

Banyak orang, misalnya, memanfaatkan online shop karena proses yang cepat, mudah, dan praktis.

Jika orang meluangkan waktu untuk membandingkan harga maka besar kemungkinan mereka bisa mengeluarkan uang lebih sedikit dari seharusnya.

Sudah jelas bahwa kamu dapat memperbaiki kondisi keuangan jika kamu menyadari bahwa kebiasaan belanja yang buruk adalah penyebabnya.

9Berhenti Berlangganan dan Unfollow

Sekarang ini, toko-toko di mall sudah banyak melakukan praktek untuk mulai mengirim resi pembelanjaan melalui email dan semua transaksi pembelanjaan dapat diakses dari email tersebut. Sebagai contoh iBox.

Baca Juga: Begini 5 Cara Menyimpan Uang yang Lebih Praktis

Dari email yang kamu berikan, mereka dapat mengirimkan newsletter atau iklan dengan berbagai penawaran fantastis.

Email-email yang dikirimkan biasanya bersifat rutin dengan berbagai tawaran produk baru yang menggiurkan.

Jika kamu merasa tergiur dari berbagai penawaran tersebut lebih baik berhenti berlangganan dari daftar email dengan cara unsubscribe dan unfollow toko tersebut.

Dijamin, cara ini ampun dan kamu tidak akan kecewa.


Itulah 9 tips sederhana untuk memperbaiki kebiasaan buruk belanja kamu. Semoga tips di atas bermanfaat ya! 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.